Aspek Penalaran dalam Karangan

Karangan2

1. Aspek Penalaran dalam Karangan

Penalaran (reasioning) adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau petunjuk menuju suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Bahan pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli (otoritas).

Selain berkomunikasi, kita juga melakukan aktifitas bernalar lain seperti menulis. Proses bernalar atau singkatnya penalaran merupakan proses berpikir yang sistematik untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Penalaran itu dapat dibedakan sebagai penalaran induktif dan deduktif.

Menulis merupakan proses bernalar. Dimana pada saat kita ingin menulis sesuatu tulisan baik itu dalam bentuk karangan atau pun yang lainnya, maka kita harus mencari topiknya terlebih dahulu. Dan dalam mencari suatau topik tersebut kita harus berfikir, maka pada saat kita berfikir tanpa kita sadari kita sendiri telah melakukan proses penalaran karena saat berfikir kita menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya.

Dalam praktek, proses penulisan tidak dapat dipisahkan dari proses pemikiran/penalaran. Tulisan adalah perwujudan hasil pemikiran/penalaran. Tulisan yang kacau mencerminkan pemikiran yang kacau. Karena itu, latihan keterampilan menulis pada hakikatnva adalah pembiasaan berpikir/bernalar secara tertib dalarn bahasa yang tertib pula.

2. Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi.

– Generalisasi

Generalisai adalah proses berpikir berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan umum mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa.

-Analogi

Analogi adalah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama. Untuk mengemukakan suatu analogi induktif, yang perlu diperhatikan ialah apakah persamaan yang dipakai sebagai dasar kesimpulan benar-benar merupakan ciri-ciri esensial penting yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang dikemukakan.

-Hubungan Kausal

Hubungan Kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antarmasalah, yaitu sebagai berikut:

  1. Hubungan sebab-akibat dimulai dengan pengamatan terhadap suatu sebab yang diketahui. Berdasarkan pengamatan itu ditarik kesimpulan mengenai akibat yang mungkin ditimbulkan.
  2. Hubungan akibat-sebab yaitu dimulai dengan fakta yang menjadi akibat, kemudian dari fakta itu dianalisis untuk mencari sebabnya.
  3. Hubungan akibat-akibat yaitu dimulai dari suatu sebab yang dapat menimbulkan serangkaian akibat.

3. Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif menggunakan bentuk bernalar deduksi. Deduksi yang berasal dari kata de dan ducere, yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum atau universal. Perihal khusus tersebut secara implisit terkandung dalam yang lebih umum. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan universal ke singular atau individual.

Contoh : 

Premis 1 = Semua unggas berasal dari telur. (U)

Premis 2 = Ayam adalah unggas. (U)

Kesimpulan = Ayam berasal dari telur. (K)

Menurut bentuknya, penalaran deduktif dibagi menjadi dua, yaitu :

  • Silogisme

Menurut KBBI, silogisme adalah bentuk, cara berpikir, atau menarik simpulan yang terdiri atas premis umum, premis khusus, dan simpulan. Silogisme merupakan proses pengambilan simpulan yang dilakukan dengan cara mengungkapkan terlebih dahulu pernyataan yang bersifat umum atau premis umum. Kemudian disusul dengan pernyataan khusus atau premis khusus.

Contoh pola silogisme:

Premis mayor  = Semua manusia akan mati.

Premis minor   = Si A adalah manusia.

Kesimpulan     = Si A akan mati.

  • Entimen

Entimen berasal dari bahasa Yunani “en” yang artinya di dalam dan “thymos” yang artinya pikiran. Entimen adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak memiliki premis mayor karena sudah diketahui secara umum, yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan.

Entimen merupakan penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.

Contoh :

“Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.”

Kalimat ini dapat dipenggal menjadi 2 bagian :

  • Menipu adalah dosa (Kesimpulan)
  • Karena menipu merugikan orang lain (Premis minor, karena bersifat khusus)

Dalam kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor. Untuk melengkapinya, kita harus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat lebih umum, jadi tidak mungkin subjeknya “menipu”. Kita dapat menalar kembali dan menemukan premis mayornya : Perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa.

Referensi:

http://www.bangjamal.my.id/2012/10/penalaran-deduktif-induktif-dan.html

https://prezi.com/wmn1kwl5eml7/penalaran-deduktif/

http://www.porosilmu.com/2016/02/penalaran-deduktif-dan-induktif.html

http://masyitohrahmiwindarti1803.blogspot.co.id/2015/11/aspek-penalaran-dalam-karangan-ilmiah.html

http://www.scribd.com/doc/9678460/Aspek-Penalaran-Dalam-Karangan
http://www.scribd.com/doc/5553114/SoalUjianNasional20042005SMAIPAIPSBhs-IndonesiaP1

http://dokumen.tips/documents/aspek-penalaran-dalam-karangan.html

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Knowledge. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s