Gulabi Gang dengan Tongkatnya dalam Menggapai Keadilan

A. PENGERTIAN KEADILAN

Keadilan menurut saya adalah hak yang telah kita dapat setelah kita melakukan kewajiban. Contohnya seorang petani menanam padi dan jika padi itu telah jadi beras dia bisa menjualnya dan akan mendapatkan uang. Keadilan merupakan itu berarti adil, tidak berat sebelah maupun memihak.

Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia, maksud dari kelayakan itu adalah titik tengah diantara dua ujung yang tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit (berimbang). Sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidak adilan.

Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Hak dapat kita tuntut apabila kita benar-benar menjalankan kewajiban itu sebgaimestinya.

 

B. KEADILAN SOSIAL

Bung Hatta dalam uraiannya mengenai sila ke 5 dalam pancasila yang berbunyi “keadilan social bagi seuruh rakyat Indonesia” menulis sebagai berikut “keadilan social adalah langkah yang menetukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur.”

Dan diuraikan pula bahwa pemimpin Indonesia yang menyusun UUD’45 percaya bhawa cita-cita keadilan social dalam bidang ekonomi ialah dapat mencapai kemakmuran yang merata.

Perbuatan dan sikap yang perlu dipupuk untuk mewujudkan keadilan social adalah:

  1. Perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  2. Sikap adil terhadap sesame, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain.
  3. Sikap suka member pertolongan kepada yang memerlukan
  4. Sikap suka bekerja keras
  5. Sikap menghargai hasil jarya orang lain yang bermanfaat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bersama

Keadilan dan ketidak adilan tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan manusia karena dalam hidup manusia setiap harinya menghadapi keadilan atau ketidak adilan. Dari kejadian keadilan dan ketidak adilan menimbulkan hasil seni yang lahir dari imajinasi, seperti drama, puisi, novel, music dan lain-lain.

Pada bagian ini saya akan menyisipkan cerita dari “Gulabi Gang” sekelompok ibu-ibu yang memakai pakaian sari warna pink, lengkap dengan pentungan di tangan. Dipimpin seorang perempuan bernama Sampat Pal Devi, Gulabi Geng adalah kelompok perlawanan perempuan yang muncul di Banda, sebuah kabupaten di Provinsi Uttar Pradesh, di utara India yang berbatasan dengan Nepal. Sampat Devi Pal mendirikan “gerakan perlawanan” itu pada 2006.

Awalnya, anggotanya hanya enam orang. Kini, situs resmi mereka, gulabigang.in anggota kelompok berkembang pesat. Dari Banda, pengaruhnya mencengkram ke 11 kabupaten di Uttar Pradesh dengan anggota mencapai 10 ribu orang.

Dalam perjalanannya, tongkat hanya dipakai dalam kondisi terpaksa jika laki-lakinya menggunakan kekerasan.  Kini, tongkat-tongkat itu terbukti telah mampu meredam kekerasan terhadap perempuan di sana, meski perjuangan belum usai. Mereka masih menghadapi kasus-kasu pelecehan terhadap perempuan, mencegah anak-anak menikah dini, hingga melawan ketidakadilan dalam sistem peradilan. Ketika ada kasus-kasus kejahatan, korupsi, atau malparaktek diberitahukan kepada mereka, kelompok itu berusaha melakukan dialog, demonstrasi dan mogok makan. Tetapi ketika menemui jalan buntu, mereka menjadikan pentungan sebagai senjata terakhir.

 

C. BERBAGAI MACAM KEADILAN

a)      Keadilan Legal atau Keadilan Moral

Plato berpendapat bahwa keadilan dan hokum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Keadilan terwujud dalam masyarakat bilamana setiap anggota masyrakat melakukan fungsinya dengan baik. Karena itulah Sampat Pal Devi membuat Gulabi Gang untuk membantu pemerintah di India dalam meredam kekerasan pada wanita dan ekploitasi pada wanita.

b)      Keadilan Disributif

Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana jika hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama.

Jika dilihat dari cerita Gulabi Gang, mereka akan terus menghadapi kasus-kasus pelecehan terhadap perempuan, mencegah anak-anak menikah dini, hingga melawan ketidakadilan dalam sistem peradilan.

c)       Keadilan Komutatif

Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Tindakan ketidak adilan akan merusak bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.

Gulabi Gang terus mencari keadilan untuk para perempuan di India yang telah tertindas dengan segala macam cara. Tidak hanya membela kaum perempuan, Gulabi Gang juga mencari keadilan terhadap pelaku kejahatan, korupsi, malpraktek dengan caranya mereka sendiri.

 

D. KEJUJURAN

Kejujuran adalah apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nurani dan sesuai dengan kenyataan yang ada, tanpa di kurangi atau di lebihkan. Sikap jujur perlu dipelajari oleh setiap orang, sebab kejujuran merupakan wujud keadilan, sedangkan keadilan menuntut kemuliaan abadi, jujur memberikan keberanian dan ketentraman hati serta mensucikan luhurnya budi pekerti.

Barangsiapa tidak dapat dipercaya tutur katanya atau tidak menepati janji dan kesanggupannya, termasuk golongan orang munafik sehingga tidak menerima belas kasihan Tuhan. Pada hakekatnya jujur atau kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa. Hati nurani bertindak sesuai dengan norma-norma kebenaran akan menjadikan manusianya memiliki kejujuran dan menjadi manusia yang jujur.

Bermodalkan keberanian dan kejujuran sekelompok ibu-ibu ini dengan tongkatnya berhasil meredam kekerasan terhadap perempuan di sana, meski perjuangan belum usai. Devi menginginkan kesetaraaan gender dengan cara berani, jujur dan kreatif untuk memberdayakan perempuan. Kekuatan kelompok ini juga sudah diakui oleh polisi setempat.

 

E. KECURANGAN

Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa. Kecurangan menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang bila masyarakat disekililingnya hidup menderita dan tidak senang bila ada yang melebihi kekayaannya. Bermacam-macam sebab seseorang melakukan kecurangan. Ditinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya, ada empat aspek yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan, aspek peradaban, dan aspek teknik.

Dalam cerita Gulabi Gang, diketahui bahwa kaum wanita di India telah mengalami ketidakadilan, telah tertindas, dan tidak menemukan jalan keluarnya. Gulabi Gang telah melangkah sebagai alternatif untuk mencapai keadilan dengan cara berani, jujur dan kreatif untuk memberdayakan perempuan. Gulabi Gang telah menciptakan kekuatan seperti hak-hak perempuan dan bangkit melawan ekspolitasi perempuan.

 

F. PEMULIHAN NAMA BAIK

Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Boleh dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah tingkah laku atau perbuatannya.

Pada hakekatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya, bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan akhlak.

Untuk memulihkan nama baik, manusia harus bertaubat dan minta maaf dan bertingkah laku yang baik.

 

G. PEMBALASAN

Pembalasan adalah suatu reaksi atas perbuatan orang lain, reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, dan tingkah laku yang seimbang. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada Allah diberikan pembalasan dan bagi yang mengingkari perintah Allahpun diberikan pembalasan dan pembalasan yang diberikanpun pembalasan yang seimbang, yaitu siksaan di neraka.

Dalam cerita Gulabi Gang, mereka melakukan pembalasan apabila dalam perjalanannya, tongkat hanya dipakai dalam kondisi terpaksa jika laki-lakinya menggunakan kekerasan. Tentang hukuman terhadap pemerkosa, Sampat Devi menawarkan jalan keluar,”Pria yang melakukan kekejaman itu harus dipukuli oleh perempuan. Mereka harus ditangkap dan dibuat tato di dahinya bertulisan ‘Saya seorang pemerkosa’.”

 

H. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dan cerita dari Gulabi Gang dapat disimpulkan bahwa kaum wanita masih diperlakukan kurang baik di beberapa Negara, termasuk Indonesia belum sepenuhnya sempurna. Membaca cerita Gulabi Gang akan perjuangannya yang sangat luar biasa itu membuat kita tersadar bahwa tidak mudah membuat suatu perubahan yang sangat lah besar untuk kaum wanita tapi apabila kita melakukannya dengan jujur, ikhlas dan bersatu untuk menjujung tinggi hak dan martabat wanita hal yang tidak mungkin itu menjadi mungkin. Sebagai wanita saya sangat kagum akan kehebatan Gulabi Gang yang notabene ibu-ibu mereka juga bisa menyelasaikan masalah sepertini.

Referensi :

Buku Ilmu Budaya Dasar Bab VII

http://atjehpost.com/articles/read/4064/Kisah-Genk-Ibu-Ibu-di-Banda-Melawan-Pemerkosaan-dengan-Pentungan

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Knowledge, Social. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s