Suku Bugis dengan Kebudayannya

Sejarah Singkat

Suku Bugis atau to Ugi’ adalah salah satu suku di antara sekian banyak suku di Indonesia. Mereka bermukim di Pulau Sulawesi bagian selatan. Namun, dalam perkembangannya, saat ini komunitas Bugis telah menyebar luas ke seluruh Nusantara.  Ugi bukanlah sebuah kata yang memiliki makna. Tapi merupakan kependekan dari La Satumpugi, nama seorang raja yang pada masanya menguasai sebagian besar wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. La Satumpugi terkenal baik dan dekat dengan rakyatnya. Rakyatnya pun menyebut diri mereka To Ugi, yang berarti Orang Ugi atau Pengikut Ugi. Dalam perjalanannya, seiring gerakan ke-Indonesiaan, Ugi dibahasa-Indonesiakan menjadi Bugis dan diidentifikasikan menjadi salah satu suku resmi dalam lingkup negara Republik Indonesia. 

A. MANUSIA

Manusia adalah makhluk yang mempunyai kelebihan yang tidak terdapat di makhluk tuhan lainnya. Manusia yang dibingkai oleh jasad dan ruh dapat melakukan hal yang bermanfaat untuk orang sekitarnya, maupun sebaliknya. Manusia selalu terikat oleh kebudayaan, karena tanpa manusia kebudayaan tidak akan ada, karena manusia merupakan peran penting yang menjalankan kebudayaan itu sendiri. Dalam hal ini saya akan membahas sedikit tentang manusia dari kebudayaan bugis. Manusia kebudayaan bugis dikenal sebagai seseorang yang pekerja keras, karena jiwa merantaunya yang mengakibatkan manusia bugis tersebar dikawasan Indonesia. Dan masyarakat bugis terkenal dengan istilah pelaut ulung, karena mereka dapat melaut hingga ke luar negeri untung mencari nafkah. Sebagian besar masyarakatnya tinggal di Pulau Sulawesi bagian selatan.

 

B. HAKEKAT MANUSIA

Manusia telah tuhan ciptakan dengan kondisi yang sangat sempurna bila dibandingkan dengan hewan bahkan tumbuhan. Dengan fisik yang sempurna dan akal yang telah tuhan berikan, manusia mpunyai berbagi macam karakteristik yang terdapat pada setiap individunya.

  • Perasaan etis, perasaan yang berkenaan dengan kebaikan. Masyakat bugis merupakan masyarakat yang yang mampu memegang teguh prinsip–prinsip tersebut adalah cerminan dari seorang manusia Bugis yang turun dari dunia atas (to manurung) untuk memberikan keteladan dalam membawa norma dan aturan sosial di bumi.
  • Perasaan religious, perasaan yang berkenaan dengan agama atau kepercayaan. Masyarakat bugis awalnya tidak menganut ajaran agama Islam, tapi seiring berjalannya waktu akhirnya masyarakat bugis menganut Islam, sekarang hampir 87% masyarakat bugis menganut agama Islam. Sesungguhnya masyarakat bugis ialah manusia yang sarat akan prinsip dan nilai–nilai ade‘ (adat) dan ajaran agama Islam di dalam menjalankan kehidupannya, serta sifat pang‘ade‘reng (adat istiadat) melekat pada pribadi mereka dan mengamalkannya.

C. KEPRIBADIAN BANGSA TIMUR

Wilayah sangat mempengaruhi manusia dalam berperilaku, Indonesia termasuk Negara Bagian Timur yang dikenal berkepribadian yang baik. Masyarakat Indonesia terkenal ramah, sopan dan saling tolong menolong yang disukai oleh bangsa barat. Kepribadian bangsa timur dan barat berbeda 180 derajat, dimana bangsa timur lebih bias menghargai orang yang lebih tua, misalkannya terhadap orang tua. Masyarakat bangsa barat biasa memanggil orang tua dengan nama, sedangkan masyarakat bangsa timur dengan kata Ibu, Mama atau Bunda. Namun perkembangan di wilayah barat lebih pesat dibandingkan di wilayah timur yang masih tetinggal. Kembali kepada individu masing-masing dalam menyikapi hal ini, ambil sisi positifnya dan lupakan sisi negatifnya.

 

D. UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN SUKU BUGIS

a. Sistem Religi

Pada mulanya, agama Suku Bugis adalah animisme yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat di sini merupakan pengikut aliran kepercayaan sure galigo, yaitu sebuah kepercayaan pada dewa tunggal yang sering mereka sebut dengan Patoto E. Bahkan, sampai saat ini masih ada masyarakat Bugis yang mempercayai aliran ini. Namun animisme itu terkikis sejak ulama asal Sumatera bernama Datuk Di Tiro menyebarkan ajaran Islam di Sulawesi Selatan. Islam kemudian menjadi agama utama Suku Bugis hingga kini. Islam masuk ke daerah Suku Bugis sekitar abad ke 17, melalui para pedagang Melayu. Ajaran Islam yang mudah diterima oleh masyarakat setempat membuat agama ini menjadi pilihan di antarakeberagaman agama lainnya. Mereka bisa menerima Islam dengan baik karena menurut mereka ajaran Islam tidak mengubah nilai-nail, kaidah kemasyarakatan dan budaya yang telah ada.

Walaupun demikian, beberapa komunitas Suku Bugis tidak mau meninggalkan animisme. Ketika Pemerintah Indonesia menawarkan kepada mereka lima agama untuk dianut, mereka lebih memilih agama Budha atau Hindu yang mereka anggap menyerupai animisme mereka. Maka jangan heran kalau ada orang Bugis yang menunjukkan KTP-nya bertuliskan agama Budha atau Hindu.

b. Sistem Oorganisasi Kemasyarakatan

Suku Bugis merupakan suku yang menganut sistem patron klien atau sistem kelompok kesetia kawanan antara  pemimpin dan pengikutnya yang bersifat menyeluruh. Salah satu sistem hierarki yang sangat kaku dan rumit. Namun, mereka mempunyai mobilitas yang sangat tinggi, buktinya dimana kita berada tak sulit berjumpa dengan manusia Bugis. Mereka terkenal berkarakter keras dansangat menjunjung tinggi kehormatan, pekerja keras demi kehormatan nama keluarga.

Sedangkan sistem kekerabatan orang Bugis disebut assiajingeng yang mengikuti sistem bilateral atau sistem yang mengikuti pergaulan hidup dari ayah maupun dari pihak ibu. Garis keturunan berdasarkan kedua orang tua sehingga seorang anak tidak hanya menjadi bagian dari keluarga besar ayah tapi juga menjadi bagian dari keluarga besar ibu.

Hubungan kekerabatan atau assiajingeng ini dibagi dua yaitu siajing mareppe(kerabat dekat) dan siajing mabella (kerabat jauh). Kerabat dekat atau siajing mareppe adalah penentu dan pengendali martabat keluarga. Siajing mareppe inilah yang akan menjadi tu masiri’ (orang yang malu) bila ada perempuan anggota keluarga mereka yang ri lariang (dibawa lari oleh orang lain). Mereka punya kewajiban untuk menghapus siri’ atau malu tersebut. Anggota siajing mareppe didasarkan atas dua jalur, yaitu reppe mereppe atau anggota kekeluargaan berdasarkan hubungan darah dan siteppang mareppe(sompung lolo) atau anggota kekeluargaan berdasarkan hubungan perkawinan.

c. Kesenian

I. Alat musik

1. Kacapi (kecapi) Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya sukuBugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar.  Menurut  sejarahnya  kecapi  ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua dawai, diambil karena penemuannya  dari tali layar perahu.

2. Sinrili, Alat musik yang mernyerupai  biola tetapi  biola di mainkan dengan membaringkan di pundak sedangkan Singrili di mainkan dalam keedaanpemain duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.

 3.  Gendang  Musik , perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang danbundarseperti rebana.

 4. SulingSuling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis,      yaitu:

  • Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telahpunah.
  • Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapidan dimainkan bersama penyanyi
  • Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara didaerahKecamatan Lembang.   Biasanya digunakan pada acara karnaval (barisberbaris) atau acara penjemputan tamu.

II. Seni Tari

  • Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
  • Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran dan kehormatan
  • Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang  sedang  menenun  benang menjadi  kain.  Melambangkan kesabaran danketekunan perempuan-perempuan Bugis.
  • Tari Pajoge’ dan  Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai(waria), namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telahpunah.

Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa ,tari Pa’galung,  dan Tari Pabbatte (biasanya di gelar padasaat Pesta Panen)

 

E. KEBUDAYAAN SUKU BUGIS

Budaya–budaya Bugis sesungguhnya yang diterapkan dalam kehidupan sehari–hari mengajarkan hal–hal yang berhubungan dengan akhlak sesama, seperti mengucapkan tabe’ (permisi) sambil berbungkuk setengah badan bila lewat di depan sekumpulan orang-orang tua yang sedang bercerita, mengucapkan iyé’ (dalam bahasa Jawa nggih), jika menjawab pertanyaan sebelum mengutarakan alasan, ramah, dan menghargai orang yang lebih tua serta menyayangi yang muda. Inilah di antaranya ajaran–ajaran suku Bugis sesungguhnya yang termuat dalam Lontara‘ yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari–hari oleh masyarakat Bugis.

Suku Bugis juga kental dengan adat yang khas: adat pernikahan, adat bertamu, adat bangun rumah, adat bertani, prinsip hidup, dan sebagainya. Meskipun sedikit banyaknya telah tercampur dengan ajaran Islam. Adat sendiri yang dimiliki Suku Bugis menandakan satu hal: Suku Bugis pada masanya memiliki peradaban yang luar biasa hebatnya. Nenek moyang Suku Bugis adalah orang-orang pintar yang mampu menciptakan dan mewariskan ilmu pengetahuan.

Umumnya rumah orang Bugis berbentuk rumah panggung dari kayu berbentuk segi empat panjang dengan tiang-tiang yang tinggi memikul lantai dan atap. Konstruksi rumah dibuat secara lepas-pasang (knock down) sehingga bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Orang Bugis memandang rumah tidak hanya sekedar tempat tinggal tetapi juga sebagai ruang pusat siklus kehidupan. Tempat manusia dilahirkan, dibesarkan, kawin, dan meninggal. Karena itu, membangun rumah haruslah didasarkan tradisi dan kepercayaan yang diwarisi secara turun temurun dari leluhur. Konstruksi berbentuk panggung yang terdiri atas tingkat atas, tengah, dan bawah diuraikan yaitu : Tingkat atas digunakan untuk menyimpan padi dan benda-benda pusaka. Tingkat tengah, yang digunakan sebagai tempat tinggal, terbagi atas ruang-ruang untuk menerima tamu, tidur, makan dan dapur. Tingkat dasar yang berada di lantai bawah diggunakan untuk menyimpan alat-alat pertanian, dan kandang ternak. Rumah tradisional bugis dapat juga digolongkan berdasarkan status pemiliknya atau berdasarkan pelapisan sosial yang berlaku.

G. KESIMPULAN

Pada dasarnya Indonesia kaya akan kebudayaan yang berada di pulau-pulau. Di setiap pulau mempunyai suku yang beraneka ragam pula, contohnya Suku Bugis yang terdapat di Sulawesi Selatan. Penyebaran Suku Bugis sudah banyak di Indonesia hingga ke Pulau Kalimantan bahkan Pulau Sumatera akibat sifat manusia Suku Bugis yang suka merantau, penyebarannya melalui perdagangan dan pernikahan, jadi tak heran jika kita dapat menemukan Suku Bugis selain di Provinsi Sulawesi. Kekayaan keseniannya pun menyebar luas dan harus di lestarikan dan di paten kan hak ciptanya agar tidak dapat di klaim oleh Negara lain, karena itu merupakan bagian dari kesenian Negara Indonesia.

Sumber:

http://www.mahasiswa-indonesia.com/2014/02/adat-dan-kebudayaan-suku-bugis.html

http://www.anneahira.com/kebudayaan-bugis.htm

http://www.kabarkami.com/to-ugi-orang-bugis.html

http://www.kabarkami.com/rumah-panggung-bugis-dan-konstruksi-sakral.html

http://www.rappang.com/2010/02/ciri-khas-musik-tradisional-sulawesi.html

http://id.scribd.com/doc/94533757/5-MAKALAH-SUKU-BUGIS

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Knowledge, Social. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s